Jumat, 21 Mei 2010

Hubungan antara pengetahuan dengan sikap dukun terhadap Program Kemitraan Bidan dan Dukun

Kemitraan Bidan – Dukun sendiri adalah suatu bentuk kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada.

Kemitraan Bidan dengan Dukun bayi akan berhasil jika terdapat hubungan saling mendukung tanpa menimbulkan kesan persaingan, terjalin kerja sama yang harmonis, dan tanpa mengurangi status dukun bayi sebagai tokoh masyarakat. Program ini juga akan berjalan dengan baik jika dukun dapat memahami makna dan tujuan dari program tersebut. Istilah kemitraan berarti ada kerja sama yang saling menguntungkan baik bagi dukun maupun bidan, dan tentunya bagi masyarakat pada umumnya karena tujuan program ini adalah pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga profesional, yang dampaknya dapat menurunkan angka kematian ibu.

Namun pelaksanaan Program Kemitraan Bidan dengan Dukun tidak selalu berjalan normal. Hasil penelitian Salman (2007) di Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (85%) setuju menerima kehadiran bidan dalam membantu persalinan, hanya (15%) yang kurang/tidak setuju, pada umumnya yang tidak setuju adalah dukun bayi yang tidak terlatih, yaitu dukun bayi yang menerima profesi ini sebagai pewarisan secara turun temurun. Dukun bayi merasa posisinya tergeser dengan kehadiran bidan di desa, sementara profesi ini merupakan salah satu sumber penghasilan mereka. Keadaan ini menyebabkan mereka mengambil jarak dengan bidan, sehingga tidak terjadi komunikasi yang baik diantara mereka.

Sikap negatif terhadap kehadiran bidan dapat terjadi karena pengetahuan dukun yang kurang memadai tentang program Kemitraan Bidan dan Dukun. Dalam penentuan sikap yang utuh, pengetahuan berfikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2007). Dengan demikian, apa maksud dan tujuan, manfaat, dan bagaimana program kemitraan bidan dan dukun itu dilaksanakan adalah suatu hal yang mutlak diketahui oleh pihak-pihak terkait, termasuk didalamnya adalah dukun.

Kode File : K200

File skripsi ini meliputi

-         Bagian depan (Daftar isi, daftar tabel, dll)

-         Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap

-         Daftar pustaka

-         Lampiran2 : instrumen, pengolahan data,dll

Bentuk file : Ms. WORD

Donasi : Rp. 100.000,-

Hubungan Status Gizi Dengan Perkembangan Anak Usia 0-3 Tahun

Pertumbuhan anak sangat berkaitan dengan nutrisi yang dikonsumsi. Kandungan gizi pada makanan yang dikonsumsi setiap hari menentukan status gizi anak. Status gizi yang baik mampu meningkatkan daya tahan tubuh yang baik pula, sebaliknya status gizi yang buruk memudahkan timbulnya penyakit. Oleh karena itu makan bukan hanya kebutuhan fisik utama semata namun juga diperlukan sebagai faktor penunjang pertumbuhan, sedangkan pertumbuhan itu merupakan langkah awal bagi perkembangan.

Salah satu kelompok umur dalam masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi (rentan gizi) adalah anak balita (bawah lima tahun). Pada anak balita terjadi proses pertumbuhan yang pesat, sehingga memerlukan zat gizi tinggi untuk setiap kilogram berat badannya. Anak balita justru paling sering menderita akibat kekurangan gizi. Sedangkan masa balita ini merupakan periode penting dalam pertumbuhan, dimana pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan menentukan perkembangan anak selanjutnya.

Kurang gizi pada tingkat ringan dan atau sedang masih belum menunjukkan gejala yang abnormal, anak masih bisa beraktivitas, bermain dan sebagainya, tetapi bila diamati dengan seksama badannya mulai kurus dan staminanya mulai menurun. Pada fase lanjut (gizi buruk) akan rentan terhadap infeksi, terjadi pengurusan otot, pembengkakan hati, dan berbagai gangguan yang lain seperti misalnya peradangan kulit, infeksi, kelainan organ dan fungsinya, akibat atrophy / pengecilan organ tersebut.

Dampak kurang gizi / gizi buruk terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi kurang gizi terjadi pada balita, khususnya pada masa golden period perkembangan otak (0-3 tahun), otak tidak dapat berkembang sebagaimana anak yang sehat, dan kondisi ini akan sulit untuk dapat pulih kembali atau bersifat irreversible.

Mengingat gizi kurang berdampak kurang baik bagi perkembangan anak, selayaknya faktor ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Anak adalah potensi penerus cita-cita bangsa. Jika anak dipupuk dan dipelihara dengan baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula sesuai dengan keinginan dan harapan.

Kode File : K199

File skripsi ini meliputi

-         Bagian depan (Daftar isi, daftar tabel, dll)

-         Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap

-         Daftar pustaka

-         Lampiran2 : instrumen, pengolahan data,dll

Bentuk file : Ms. WORD

Donasi : Rp. 100.000,-

Pengaruh Pemakaian Kontrasepsi Implant Terhadap Keteraturan Siklus Menstruasi.

Kontrasepsi implant merupakan salah satu kontrasepsi yang didiminati akseptor KB. Berdasarkan data dari Puskesmas Jabung Kabupaten Malang, diketahui bahwa jumlah akseptor KB implant pada tahun 2008 terdapat 5,7% dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 6,6%. Jumlah akseptor KB pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2008 terdapat 437 akseptor dengan data sebagai berikut : kontrasepsi suntik 265 orang (57,6%), kontrsepsi pil 102 orang (21,3%), kontrasepsi IUD 50 orang (11,4%), kontrasepsi Implant 12 orang (5,7%) dan kontrasepsi mantap 8 orang (1,8%).
Mengingat jumlah akseptor KB implant cukup banyak, maka perlu diwaspadai dan diantisipasi kemungkinan resiko efek samping yang dapat terjadi. Efek samping tersebut antara lain perdarahan lebih banyak dari pada haid biasanya, pusing atau rasa mual yang hebat, terjadi penambahan berat badan yang menyolok, dan terjadi kelambatan haid. Implant adalah kontrasepsi hormonal yang memiliki bentuk kapsul plastik, tipis, fleksibel, yang mengandung 36 mg levonorgestrel yang dimasukkan ke dalam kulit lengan wanita. Kapsul ini melepaskan progestin ke dalam aliran darah secara perlahan dan biasanya dipasang selama 5 tahun. Mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur), mempertebal lendir mukosa leher rahim, mengganggu pergerakan saluran tuba, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Kontrasepsi ini efektif dalam waktu 48 jam setelah diimplan dan efektif selama 5-7 tahun.
Ketidakteraturan siklus menstruasi memang merupakan salah satu efek samping dari kontrasepsi implant. Hal ini umumnya terjadi pada bulan pertama pemakaian dan berlangsung selama 3-12 bulan. Setelah 1 tahun, sekitar 1/3 dari wanita yang menggunakan implant tidak mengalami siklus menstruasi sama sekali






Kode File : K198
File skripsi ini meliputi
- Bagian depan (Daftar isi, daftar tabel, dll)
- Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap
- Daftar pustaka
- Lampiran2 : instrumen, pengolahan data,dll


Bentuk file : Ms. WORD
Donasi : Rp. 100.000,-

Hubungan praktik penyapihan dengan kejadian diare pada anak usia 1-2 tahun di Puskesmas.

Nutrisi pertama dan utama bagi bayi tentu saja ASI, pilihan ini tidak perlu diperdebatkan lagi . Tetapi perkembangan menunjukkan adanya perubahan yang justru memisahkan bayi dan ASI yang dimiliki ibunya. Peningkatan pamor susu formula di tahun enam puluhan serta rumor tentang tidak modernnya ASI menyebabkan makin berkurangnya penggunaan ASI.

Dewasa ini di Indonesia 80-90% ibu di daerah pedesaan masih menyusui bayi sampai umur lebih dari 1 tahun, tetapi di kota-kota ASI sudah banyak diganti dengan susu botol. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan penggunaan ASI. Di perkotaan ibu-ibu ikut bekerja untuk mencari nafkah, sehinggga tidak dapat menyusui bayinya dengan baik dan teratur. Sebelum tahun 1970-an pemberian ASI turun hingga tingkat terendah dan pada tahun 1970-an pemberian ASI semakin meningkat. Pada tahun 2001, pemberian ASI mencapai tingkat tertinggi yaitu hampir 70 %. Pada saat itu  banyak ibu mulai memberikan ASI dan terus memberikannya selama 6 bulan. (WHO, 2006). Dari hasil survey kesehatan Indonesia tahun 1992 bahwa wanita yang memberikan ASI baru menyentuh angka 51%. Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita (Arisman, 2004:42).

Menurut laporan WHO (2000) lebih kurang 1,5 juta anak meninggal karena pemberian makanan yang tidak benar, kurang dari 15% bayi di seluruh dunia diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan dan seringkali pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai dan tidak aman. Hasil penelitian menunjukkan gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan anak usia di bawah 5 tahun (balita) antara lain kekurangan gizi sejak dalam kandungan (pertumbuhan janin yang terhambat), pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini atau terlambat serta tidak cukup mengandung energi dan zat gizi (terutama mineral) dan tidak berhasil memberikan ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menunjukkan penyapihan bayi rata-rata dilakukan pada bulan ke tujuh pasca persalinan diketahui 63,3% responden masih menyusui dan 3,6%  sama sekali tidak menyusui karena menderita sakit  atau produksi ASI tidak terjadi saat awal. Kelompok kerja formal lebih dini menyapih bayinya, rata-rata 6-9 bulan setelah melahirkan sedangkan untuk pekerja informal pada saat bayi berusia 7-9 bulan. Semakin rendah pendidikan ibu merupakan resiko terjadinya penyapihan dini. Bayi dengan ibu yang harus bekerja kembali setelah melahirkan cenderung mengalami penyapihan dini. Ibu yang terpaksa meninggalkan bayinya di rumah juga mengalami kenaikan resiko penyapihan dini 3x lebih cepat.

Menyapih berarti bayi secara berangsur-angsur dibiasakan menyantap makanan orang dewasa. Selama masa penyapihan, makanan bayi berubah dari ASI saja ke makanan yang lazim dihidangkan oleh keluarga, sementara air susu diberikan hanya sebagai makanan tambahan. Insidensi penyakit infeksi, terutama diare lebih tinggi pada saat penyapihan ini daripada periode lain kehidupan. Hal ini terjadi karena makanan berubah, dari ASI yang bersih dan mengandung zat-zat anti infeksi (antara lain Ig A, Laktoferin, WBC) ke makanan yang disiapkan, disimpan dan dimakan tanpa mengindahkan syarat kebersihan.

Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih sering terjadi. Hingga kini diare menjadi “Child Killer” (Pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia. Statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia dan 2/3 nya adalah balita dengan korban meninggal sekitar 600.000 jiwa. Akibat diare pada bayi yaitu bila diare yang terjadi sangat sering, cair dan bau asam, metoorismus, flatulens dan kolik abdomen, maka akibat dari gejala tersebut pertumbuhan anak akan terlambat bahkan tidak jarang malnutrisi. Tak jarang diare akut dapat mengakibatkan kematian.

Kode File : K197

File skripsi ini meliputi

-         Bagian depan (Daftar isi, daftar tabel, dll)

-         Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap

-         Daftar pustaka

-         Lampiran2 : instrumen, pengolahan data,dll

Bentuk file : Ms. WORD

Donasi : Rp. 100.000,-

Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya WUS Dalam Melakukan Deteksi Dini Ca Cervik Dengan Pemeriksaan IVA

Data patologi dan data rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa kejadian kanker serviks berada di peringkat pertama. Data tahun 1997, menunjukkan bahwa dari 12 Pusat Patologi di Indonesia, kanker serviks menduduki peringkat tertinggi, yaitu 25% dari 10 jenis kanker terbanyak laki-laki dan perempuan atau 26,4% dari 10 jenis kanker terbanyak pada perempuan. Selain kejadiannya tinggi, masalah lain adalah bahwa hampir 70% datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan stadium lanjut. Ini berarti telah lebih dari Stadium IIB. Pada stadium ini, efektivitas pengobatan yang lengkap sekalipun hasilnya masih belum memuaskan dan mortalitas yang diakibatkannya tinggi.

Mengacu pada data Yayasan Kanker Indonesia, angka kematian akibat kanker serviks terbanyak di antara jenis kanker lain di kalangan perempuan. Angka kejadian sekitar 74 persen dibandingkan kanker ginekologi lainnya. Diperkirakan, 52 juta perempuan Indonesia berisiko terkena kanker serviks, sementara setiap tahunnya terjadi 15.000 kasus baru dengan kematian 8.000 orang. Sementara itu, data WHO tahun 2003 menyebutkan, sekitar 500.000 perempuan setiap tahunnya didiagnosis menderita kanker serviks dan hampir 60 persen di antaranya meninggal dunia. Secara epidemiologi, kanker serviks cenderung timbul pada kelompok usia 33-55 tahun, tetapi dapat juga timbul pada usia yang lebih muda.

Penyelenggaraan skrining kanker serviks dengan tes pap smear adalah sesuatu yang sudah ideal, walaupun diketahui pemeriksaan tes pap juga mempunyai keterbatasan, antara lain sensitivitasnya yang rendah di berbagai senter. Tapi penyelenggaraan tes pap secara luas apalagi secara nasional sangat sulit dilaksanakan di Indonesia. Hal ini disebabkan terkendala oleh faktor belum tersedianya sumber daya, khususnya spesialis Patologi Anatomik dan skriner sitologi sebagai pemeriksa sitologi di semua ibu kota provinsi, apalagi di kabupaten di Indonesia.

Untuk mengatasi hal di atas, perlu upaya pemecahan masalah dengan metode skrining lain yang lebih mampu laksana, cost effective dan dimungkinkan dilakukan di Indonesia. Salah satu metode alternatif skrining kanker serviks yang dapat men­jawab ketentuan-ketentuan tersebut adalah inspeksi visual dengan pulasan asam asetat (IVA). IVA adalah pemeriksaan skrining kanker serviks dengan melihat secara lang­sung perubahan pada serviks setelah dipulas dengan asam asetat 3 – 5%. Dengan metode IVA, juga dapat diidentifikasi lesi prakanker serviks, baik Lesi Intraepitel Serviks Derajat Tinggi (LISDT), maupun Lest Intraepitel Serviks Derajat Rendah (LISDR). Adanya tampilan bercak putih setelah pulasan asam asetat mengindikasikan kemungkinan adanya lesi prakanker serviks.

Metode skrining IVA ini relatif mudah dan dapat dilakukan oleh dokter umum, bidan atau perawat yang telah dilatih. Jumlah profesi bidan di Indonesia yang potensial dapat dilatih agar dapat melakukan skrining kanker serviks, yaitu sejumlah 84.789 orang (data tahun 2004). Kelompok ini merupakan pasukan pemeriksa yang dapat diandalkan dalam upaya penanggulangan kanker serviks di Indonesia. Pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan yang pe­meriksanya (dokter/bidan/paramedis) mengamati serviks yang telah diberi asam asetat/ asam cuka 3 - 5% secara inspekulo dan dilihat dengan penglihatan mata langsung (mata telanjang)

Sebagai suatu pemeriksaan skrining alternatif, pemeriksaan IVA memiliki beberapa manfaat jika dibandingkan dengan uji yang sudah ada, yaitu efektif (tidak jauh berbeda dengan uji diagnostik standar), lebih mudah dan murah, peralatan yang dibutuhkan lebih sederhana, hasilnya segera diperoleh sehingga tidak memer­lukan kunjungan ulang, cakupannya lebih luas, dan pada tahap penapisan tidak dibu­tuhkan tenaga skriner untuk memeriksa sediaan sitologi. Informasi hasil dapat diberi­kan segera. Keadaan ini lebih memungkinkan dilakukan di negara berkembang, seperti Indonesia, karena hingga kini tenaga skriner sitologi masih sangat terbatas.

Kode File : K196

File skripsi ini meliputi

-         Bagian depan (Daftar isi, daftar tabel, dll)

-         Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap

-         Daftar pustaka

-         Lampiran2 : instrumen, pengolahan data,dll

Bentuk file : WORD

Donasi : Rp. 100.000,-

Rabu, 19 Mei 2010

JUDUL SKRIPSI-THESIS GRESSSSSS……………

JUDUL SKRIPSI-THESIS BARU, TERBIT 2010 ..............



K207   Pengaruh Pemberian Lavement dan Obat Pencahar Terhadap Kecepatan Proses Persalinan

K208   Hubungan faktor-faktor kader posyandu, aparat desa, tokoh masyarakat, Bidan dengan keberhasilan posyandu

K209   Perbedaan Pengaruh Perawatan Luka Menggunakan Povidone Iodine, Eusol dan Daun Sirih Terhadap Penyembuhan Luka Perineum

K210   Pengaruh Pemberian Coklat Terhadap Tingkat Nyeri Persalinan

K211   Hubungan antara pengetahuan, pekerjaan, dan kesehatan ibu menyusui dengan lamanya menyusui pada anak usia 2 tahun

K212   Hubungan  Asupan Gizi, Aktifitas Fisik dan Psikis Ibu dengan His Pada Ibu Bersalin

K213   Hubungan Antara Umur Saat Pemberian Kontrasepsi, Pola Makan, Faktor Genetik Dan Pola Aktivitas Dengan Efek Samping Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulanan

K214   Hubungan Riwayat Kesehatan Ibu, Hemoglobin Ibu dan Status Gizi Ibu dengan Berat Badan Lahir Rendah

K215   Pengaruh mengkonsumsi daun katuk, susu formula dan susu kedelai terhadap kelancaran pengeluaran ASI

K216   Hubungan Antara Umur Saat Pemberian Kontrasepsi, Lama Pemberian Kontrasepsi Dan Keharmonisan Hubungan Dengan Suami Dengan Penurunan Libido Pada Akseptor Kb Suntik 3 Bulanan

K217   Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia 24 bulan

K218   Hubungan usia, status pernikahan, kondisi suami dan kondisi ibu dengan terjadinya perubahan pada mukosa serviks melalui pemeriksaan IVA

K219   Hubungan Antara Riwayat Kesehatan Ibu Selama Hamil, Kondisi Gizi Bayi Dan Riwayat Kesehatan Anak Dengan Tumbuh Kembang Anak Usia 1 Tahun

K220   Hubungan Antara Kondisi Bayi Baru Lahir, Kondisi Ibu Saat Melahirkan dan Psikis Ibu dengan Waktu Mulainya Inisiasi Menyusu Dini

K221   Pengaruh pemberian vitamin c, vitamin b6, susu formula khusus ibu hamil dengan pengurangan rasa mual akibat mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil trimester II

K222   Pengaruh perawatan payudara, pijat dukun dan mandi lulur boreh rempah selama hamil terhadap kelancaran ASI

K223   Pengaruh Kondisi Ibu Waktu Hamil, Kondisi Bayi dan Peran Bidan terhadap Keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

K224   Hubungan pola makan, usia, faktor genetic dan psikis ibu dengan terjadinya preeklamsia

K225   Perbedaan pengaruh Senam Nifas, Stretching (Peregangan) Dan Senam Perut Dan Terhadap Pemulihan Kesehatan Pada Ibu Nifas

K226   Hubungan Antara Umur Saat Pemberian Kontrasepsi, Pola Makan, Pola Istirahat dan Pola Aktifitas dengan Peningkatan Berat Badan pada Akseptor KB 1 Bulanan

K227   Hubungan Pengetahuan Ibu, Mitos Tentang ASI, Kondisi Pekerjaan, Dan Produksi ASI Dengan Keberhasilan Pemberian ASI

K228   Hubungan antara kondisi ibu, kondisi bapak dan pamong desa dengan kelengkapan imunisasi pada bayi

K229   Hubungan Antara Pengetahuan Tentang PMS, Kenyamanan Penggunaan Kondom dan Kondisi Keuangan dengan Ketepatan Penggunaan Kondom

K230   Pengaruh Faktor-Faktor Bidan, Pamong Desa dan Dukun terhadap Keberhasilan Program Kemitraan Bidan dan Dukun

K231   Hubungan kondisi psikis masa remaja, kondisi psikis menikah dan kondisi psikis dewasa dengan umur seorang wanita pada saat datangnya masa klimakterium

K232   Pengaruh mengkonsumsi susu formula, susu formula ekstra daun katuk, dan daun katuk saja terhadap kelancaran produksi ASI

K233   Perbedaan Kecepatan Pelepasan Tali Pusat Antara Yang Dirawat Menggunakan Kasa Kering, Ekstraks Plasenta Dan Pengerigan Secara Alami

K234 Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam memberikan susu formula dini pada bayi usia 0-6 bulan

K235 Perbedaan Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun Antara yang Diasuh Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja


Jumat, 14 Mei 2010

Karakteristik ibu menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif di Puskesmas XX.

Penyebab tingginya AKB di Indonesia disebabkan banyak hal yang mana salah satunya adalah dari faktor status gizi bayi. Menurut hasil penelitian Khairunniyah (2004), pemberian ASI eksklusif berpengaruh  pada kualitas kesehatan bayi. Semakin sedikit jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif, maka kualitas kesehatan bayi dan anak balita akan semakin  buruk, karena pemberian makanan pendamping ASI yang tidak benar menyebabkan gangguan pencernaan yang selanjutnya menyebabkan gangguan pertumbuhan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan AKB. Demikian pula dengan angka kesakitan bayi juga semakin tinggi. Kasus Gizi buruk pada balita dari berbagai Propinsi di Indonesia masih tinggi, dimana 11,7 % gizi buruk tersebut tedapat pada bayi berumur kurang dari 6 bulan. Hal ini tidak perlu terjadi jika ASI diberikan secara baik dan benar, karena menurut penelitian dengan pemberian ASI saja dapat mencukupi kebutuhan gizi selama enam bulan. Berdasarkan data UNICEF hanya 3% ibu yang memberikan ASI ekslusif dan menurut SDKI 2002 cakupan ASI ekslusif di Indonesia baru mencapai 55%, sedangkan di Jawa Timur jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif tahun 2006 sebesar 278.601 (38,7%) dengan jumlah bayi 719.332, masih jauh dibawah target sebesar 60%.

Meneteki merupakan proses alamiah dan bagian terpadu dari  proses reproduksi. Setiap wanita yang hamil sampai cukup bulan akan dapat mengeluarkan air susu. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan paling ideal bagi bayi. Oleh karena itu, pada tahun 2000 pernerintah Indonesia menetapkan target sekurangnya 80% ibu meneteki bayinya secara eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan ataupun minuman lainnya sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan. Semula pemerintah Indonesia menganjurkan para ibu meneteki bayinya hingga usia 4 bulan, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan baru melalui Menteri Kesehatan RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 mengenai pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan dan dianjurkan untuk dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.

Di Indonesia terutama di kota-kota besar, terlihat adanya penurunan dalam pemberian ASI yang dikhawatirkan meluas ke pedesaan. Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif selama 6 bulan merupakan program prioritas karena dampak penggunaan ASI eksklusif terhadap status gizi dan kesehatan bayi dan balita. Saat ini praktek meneteki di Indonesia cukup memprihatinkan, menurut SDKI tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah meneteki bayinya, namun yang meneteki dalam 1 jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan menurun dari 42,4% tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. Sementara itu penggunaan susu formula justru meningkat lebih dari 3 kali lipat selama 5 tahun dari 10,8% tahun 1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002.

Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga 13% sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran total 22/1000 kelahiran hidup, angka kematian balita 46/1000 kelahiran hidup maka jumlah bayi yang akan terselematkan sebanyak 30 ribu. Namun yang patut disayangkan tingkat pemberian ASI secara eksklusif di tanah air hingga saat ini masih sangat rendah yakni antara 39% - 40% dari jumlah ibu yang melahirkan. Promosi pemberian ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dari petugas kesehatan, masa cuti yang terlalu singkat bagi ibu yang bekerja, persepsi sosial budaya dan keagresifan produsen susu formula mempromosikan produknya kepada masyarakat dan petugas kesehatan. Beberapa karakteristik  penting yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah usia, pendidikan, sosial ekonomi,  dan budaya  masyarakat itu sendiri terhadap kesehatan yang meliputi aspek sikap maupun tindakan sehari-hari.

Kode Skripsi : K195

File skripsi ini meliputi :

  1. Bagian depan

  2. Bab 1-5 (Pendahuluan s/d Penutup)

  3. Daftar Pustaka

  4. Lampiran-2 (Kuesioner, dll)


Bentuk file : Ms.word

Donasi : Rp. 100.000,-