Selasa, 28 April 2009

Hubungan Pola Asuh Ibu Terhadap Kecerdasan Emosi Pada Anak Prasekolah

Kecerdasan emosional (EQ) individu mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk mengenali perasaan orang lain (empati) dan berdoa, serta untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. Kecerdasan emosional ini memegang peranan penting untuk kesuksesan seseorang, melebihi kecerdasan rasional/intelektual. Untuk itu diperlukan suatu pendidikan sedini mungkin terhadap anak-anak, khususnya tentang kecakapan manusiawi dasariah, seperti kesadaran diri, pengendalian diri, dan empati, seni mendengarkan, menyelesaikan pertentangan dan kerja sama dengan menjaga keseimbangan antara kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional.

Salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan emosi anak adalah pengasuhan yang memahami kebutuhan anak. Keluarga sebagai satuan unit sosial terkecil merupakan lingkungan pendidikan yang paling utama dan pertama, dalam arti keluarga merupakan lingkungan yang paling bertanggung jawab dalam mengembangkan kematangan emosi anak-anaknya. Orang tua memegang peranan membentuk sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama yang di tandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih dan hubungan yang penuh kasih sayang.

Di satu pihak ada orang tua yang memandang bahwa anak merupakan suatu yang sangat didambakan oleh keluarga karena dianggap akan menjadi penyambung silsilah untuk generasi mendatang dengan segala citra yang indah. Sejalan dengan pandangan itu maka orang tua bersikap dan memperlakukan anak dengan cara berlebihan. Aktivitas dan pergaulan anak sangat dibatasi, banyak larangan yang kadang-kadang tidak jelas alasannya. Sebaliknya orang tua berusaha semaksimal mungkin dalam memenuhi segala permintaan anak tanpa melihat dan mempertimbangkan apakah permintaan itu masih dalam batas kewajaran. Sikap yang demikian protektif tersebut dapat menyebabkan anak cenderung bersifat manja, kurang kreatif dan rendah tingkat kemandiriannya, dan pada akhirnya membuat status emosinya kurang stabil.

Peran orang tua dalam melatih dan mendidik anak untuk mendorong kematangan emosi anak seperti tersebut di atas sangatlah penting, yang bisa melalui suatu pola pengasuhan yang baik. Orang tua diharapkan bisa menjadi teman bagi anak, bisa mengarahkan emosi anak, tapi bukan memaksakan anak untuk menuruti kehendak orang tua. Namun selama ini sikap terlalu protektif, pemaksaan keinginan orang tua terhadap anak secara berlebihan, harapan untuk menjadikan anaknya menjadi anak yang pandai/cerdas menurut pikiran orang tua, menggambarkan bahwa kecerdasan intelektual anak dijadikan sebagai tolok ukur utama keberhasilan dalam mendidik anak tanpa memperhatikan kebutuhan bermain anak.

Kode File : Q027
File skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran2, instrumen lengkap

Bentuk file : Ms.word

Donasi : Rp. 50.000,-

Pengaruh Aktifitas Fisik Terhadap Stabilitas Tekanan Darah Pada Lansia

Studi WHO menyatakan bahwa gaya hidup kurang aktifitas seperti duduk terus-menerus dalam bekerja adalah 1 dari 10 penyebab kematian dan kecacatan di dunia. Lebih dari dua juta kematian setiap tahun disebabkan oleh kurangnya bergerak/aktifitas fisik. Pada kebanyakan negara diseluruh dunia antara 60% hingga 85% orang dewasa tidak cukup beraktifitas fisik untuk memelihara fisik mereka. Gaya hidup duduk terus-menerus dalam bekerja (sedentary) dan kurang aktifitas/gerak ditambah dengan adanya faktor risiko berupa merokok, pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, pembuluh darah, kencing manis, berat badan lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi dan kecemasan.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi sebagai salah satu penyakit yang timbul akibat gaya hidup kurang gerak dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Seringkali hipertensi disebut sebagai silent killer karena tidak memiliki gejala khusus namun apabila tidak ditangani dengan baik akan mempunyai risiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.

Orang lanjut usia pada lazimnya secara fisiologis adalah normal memiliki nilai tekanan darah yang tinggi. Selain karena mengurangi aktifitasnya di usia senja, kondisi ini juga terjadi karena dinding arteri lansia telah menebal dan kaku karena arteriosclerosis sehingga darah dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Hal ini sesuai dengan artikel yang dipublikasikan oleh info-sehat.com bahwa penyakit tekanan darah tinggi / hipertensi tersebut kini semakin sering dijumpai pada orang lanjut usia.

Kode File : K183
File skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran2, instrumen lengkap

Harga : Rp. 50.000,-

Hubungan Antara Motivasi Menjadi Perawat Dengan Prestasi Belajar Pada Mata Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan

Keberhasilan suatu proses pembelajaran mata kuliah keperawatan sangat ditentukan oleh adanya motivasi yang kuat untuk menjadi seorang perawat, yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas / mutu dari pada lulusan itu sendiri, dimana mutu / kualitas dari lulusan inilah yang menentukan tingkat kepercayaan konsumen / Masyarakat terhadap jasa profesi perawat. Untuk memahami dan mengetahui ada atau tidaknya motivasi menjadi seorang perawat itu, Penulis mencoba menghubungkannya dengan prestasi belajar pada mata kulia kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan dengan pertimbangan bahwa mata kuliah ini sangat banyak membahas tentang pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan tentang pelaksanaan proses keperawatan yang merupakan tugas pokok dari profesi perawat itu sendiri.
Munculnya berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kurangnya kualitas dari para lulusan D.III keperawatan dewasa ini, berawal dari sistem seleksi penerimaan peserta didik yang kurang memperhatikan unsur motivasi dari para calon peserta didik itu sendiri karena lebih banyak mengandalkan seleksi tes kognitif pada ujian tulis, disamping itu juga telah banyaknya bersebaran institusi Akper baik itu Akper Depkes, Pemda maupun Akper swasta sehingga memudahkan bagi para calon peserta didik untuk memilih dan masuk pada pendidikan Akper, misal sudah gagal masuk di Akper Depkes, masih ada Akper Pemda kemudian masih ada lagi Akper swasta. Ditambah lagi faktor desakan orang tua yang memaksa putra-putrinya untuk masuk Akper walaupun pada dasarnya putra – putrinya tersebut tidak memiliki kemauan untuk menggeluti profesi Keperawatan.

Kode File : K182
File skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – V (pendahuluan – penutup) lengkap
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran2

Donasi : Rp. 30.000,-

Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Perilaku Yang Beresiko Tinggi Tertular Virus HIV/AIDS di SMU Negeri X

Jumlah kumulatif kasus AIDS dilaporkan semakin meningkat pesat. Bila dilihat menurut kelompok umur 73% menyerang usia 20 – 39 tahun. Melihat dari kelompok umur tersebut, terlihat jelas kelompok umur remaja menjadi kelompok yang paling beresiko. Seperti diketahui pada saat usia remaja mengalami masa krisis menuju kedewasaan. Menurut Erik Erikson, 1963 perkembangan psikososial yang tenjadi adalah pertentangan antara identitas dengan difusi peran. Pada masa ini juga tidak jarang disertai pergolakan hati atau kekisruhan batin. Pada awalnya peran orang tua sebagai sumber perlindungan dan sumber nilai utama, namun akan menurun secara perlahan. Peran kelompok dan teman sebaya tinggi, melalui kehidupan berkelompok ini remaja bereksperimen dengan peranan dan dapat menyalurkan diri.
Pengaruh perkembangan teknologi dan industrialisasi tidak bisa dipisahkan, berbagai efek negatif dari tv, film, vcd, atau media cetak yang begitu mudah didapatkan dan dibaca otak remaja. Berbagai obat-obatan narkoba, psikotropika, alkohol, ataupun pornografi baik melalui media cetak ataupun internet beredar demikian mudah dikalangan remaja, akan menjerumuskan remaja kearah penyimpangan sosial.
Penularan AIDS sebagian besar melalui hubungan seksual yang tidak sehat, misalnya sering berganti-ganti pasangan atau melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Seperti disebutkan dalam suatu penelitian tahun 1991, penelitian terhadap lebih dari 1000 kaum remaja pada tahun 1986 menemukan keanekaragaman yang jelas dalam pengetahuan tentang AIDS, khususnya perlunya menggunakan kondom dan mengambil tindakan pencegahan lainnya untuk mengurangi resiko infeksi selama hubungan seksual.
Dikalangan remaja saat ini juga terdapat fenomena adanya kecenderungan melakukan hubungan seks pra nikah, selain faktor coba-coba karena keingintahuan remaja yang sedang mencari identitas, faktor ekonomi menjadi salah satu faktor pemicunya. Seperti penelitian yang dilakukan Wijayanto pada agustus 2002 atas 1660 responden dari 16 perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta terdapat 0,25% responden melakukan seks dengan lebih dari satu pasangan. Penelitian lain dilakukan perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta yang dilakukan di tiga propinsi secara terpisah menunjukkan 18,2% remaja pada rentang usia 15-18 tahun dilaporkan melakukan tindak seksual aktif. Dari data PKBI Yogyakarta diungkapkan, remaja Yogyakarta yang hamil di luar nikah cenderung meningkat dalam tiga tahun terakhir, rata-rata 30 orang perbulan dan umumnya anak-anak kost.
Faktor yang beresiko tinggi tertular virus HIV/AIDS selain melalui hubungan seksual bebas adalah penggunaan obat-obatan terlarang seperti narkoba, alkohol dan zat adiktif lain (NAZA). Hal ini dimungkinkan sebagai akibat penggunaan jarum suntik yang bergantian diantara pengguna narkoba, dimana kebiasaan bertukar penggunaan jarum suntik menjadi suatu medium yang sangat cepat penularan virus HIV/AIDS. Dilaporkan penderita HIV/AIDS melalui cara penularan ini meningkat 18%, angka ini diperkirakan bertambah besar melebihi penularan melalui cara lain, seperti hubungan seksual, transfusi darah, dan transmisi perinatal (transmisi dari ibu ke bayi). Pada bulan februari 2001, total kasus penderita HIV/AIDS 1880, rincinya 1060 kasus akibat heteroseksual, 125 kasus homoseksual, 349 kasus narkotika injeksi, 11 transmisi perinatal, tiga kasus transfusi darah, dan 330 tidak diketahui penyebabnya. Pada bulan Mei meningkat menjadi 1956 kasus, dengan lonjakan paling besar tejadi pada kasus narkotika injeksi. Kasus-kasus penggunaan obat-obatan terlarang paling banyak terjadi pada golongan usia remaja namun tidak sedikit juga terjadi pada usia dewasa, bahkan dilaporkan peredaran obat-obatan terlarang ini juga merambah sampai anak-anak sekolah dasar.
Berkaitan dengan AIDS remaja dipandang sebagai kelompok yang beresiko. Pada umumnya remaja relatif cukup mendapatkan informasi dan beberapa fakta yang dipublikasikan, meskipun pengetahuan mereka tentang timbulnya dan kemungkinan cara-cara penularannya relatif masih kurang.. Sebuah studi yang dilakukan oleh KSPKK – UNDIP di Semarang diantara 1000 orang siswa menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan tentang AIDS pada umumnya masih rendah, khususnya cara penularannya.

Kode File : K181
File proposal skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – III (pendahuluan – metpen) lengkap
c. Kuesioner

Bentuk file : Ms.Word Document
Donasi : Rp. 30.000,-

Perbedaan Tingkat Kepuasan Pasien Antara Penerapan Metode Penugasan Keperawatan Tim Dan Penerapan Metode Penugasan Fungsional

Era globalisasi dimana ilmu dan tehnologi berkembang pesat serta jalur komunikasi yang terbuka menunjang penyebarluasan informasi diseluruh dunia .perkembangan dan peningkatan jasa dari tahun ketahun semakin menjadi perhatian masyarakat, hal ini dapat dilihat dari banyaknya bermunculan perusahaan dibidang jasa dan ketatnya persaingan atas pelayanan, harga dan promosi diantara sekian banyak perusahaan.
Dalam kondisi persaingan yang ketat, hal utama yang perlu diprioritaskan oleh perusahaan jasa adalah kepuasan pelanggan agar dapat bertahan, bersaing, mempertahankan pasar yang sudah ada dan jika memungkinkan menguasai pasar . Untuk memenangkannya perusahaan harus mampu memberikan kepuasan pada pelanggannya misalnya dengan layanan yang mutunya baik dibanding pesaing dengan harga yang layak dan waktu penyampaian jasa yang lebih cepat.Untuk itu perlu meningkatkan kemampuan karyawan yang melayani pelanggan. Hal itu penting karena perusahaan yang sukses memiliki dedikasi yang tinggi untuk merasakan, melayani dan memuaskan kebutuhan konsumen dengan memberikan pelayanan yang berkualitas dan bernilai tinggi bagi pelanggan mereka.
Konsep SERVQUAL menerangkan perbandingan antara pengharapan konsumen atas jasa (expected service) dengan jasa yang dirasakan (percieved service).

Pengharapan konsumen dibentuk oleh pengalaman terdahulu dengan penyedia jasa, komunikasi dari mulut kemulut tentang pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa, dan kebutuhan pribadi konsumen. Sedang jasa yang diterima adalah kinerja dari jasa yang dirasakannya. Tolok ukur yang digunakan dalam mengukur kwalitas jasa ini adalah dimensi kualitas jasa yang terdiri dari tangibles (bukti langsung), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empathy (empati). Perbandingan tersebut membentuk tiga kemungkinan yaitu pertama bila jasa yang dirasakan melebihi pengharapan (quality surprise) dimana pelayanan yang diterima atau dirasakan melebihi pelayanan yang diharapkan, yang kedua bila kualitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan (satisfactory quality) dan yang terakhir jika jasa yang diterima dibawah harapan (unacceptable quality) bila pelayanan yang dirasakan lebih buruk dari pelayanan yang diharapkan. Jika konsumen merasa puas atau bahkan surprise dengan jasa yang diterima, akan memperlihatkan kecenderungan yang besar untuk menggunakan kembali jasa yang ditawarkan oleh perusahaan dimasa yang akan datang. Dampak langsung dari kepuasan konsumen adalah adanya penurunan komplain dari konsumen dan peningkatan kesetiaan konsumen

Praktek keperawatan memerlukan kewenangan untuk membuat keputusan keperawatan,bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut dan bertanggung gugat terhadap praktek yang dilakukan. Penggunaan metode penugasan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan memberikan asuhan keperawatan yang memuaskan klien dan pemberi layanan, sehingga klien mendapatkan asuhan keperawatan yang terbaik dan perawat memperoleh kesempatan untuk memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan yang terbaik sesuai kemampuan yang mereka miliki, serta dapat bekerja sama dengan semua pihak yang terkait. Asuhan keperawatan bermutu dapat dilaksanakan melalui pendekatan metode penugasan keperawatan.

Pendekatan ini dapat berupa metode penugasan keperawatan fungsional, tim, modular, kasus dan keperawatan primer/utama. Salah satu yang digunakan adalah metode penugasan tim yang mempunyai tujuan memberikan perawatan yang berpusat pada kebutuhan klien, komprehensif dan tak terpilah-pilah.

Kode File : K180
File proposal skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – III (pendahuluan – metpen) lengkap
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran2

Harga : Rp. 30.000,-

Hubungan Pengetahuan Tentang Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan dengan Sikap Ibu Hamil Terhadap Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Desa XX

Kehamilan merupakan saat yang menyenangkan dan dinati-nantikan oleh setiap keluarga, tetapi juga dapat menjadi saat kegelisaah dan keprihatinan sebagai resiko dari kehamilan dan atau proses persalinan yang akan dihadapi. Kematian seorang ibu dalam proses persalinan atau akibat lain yang berhubungan dengan kehamilan merupakan suatu pengalaman yang menyedihkan bagi keluarga dan anak yang ditinggalkannya.

Potensi resiko pada suatu kehamilan dan persalinan selalu bisa terjadi, baik rendah maupun tinggi untuk terjadinya komplikasi obstetri, yang dapat menyebabkan kematian / kesakitan / kecacatan / ketidakpuasan atau ketidaknyamanan. Kondisi nyata di Indonesia menunjukkan Angka Kematian Ibu / AKI masih sangat tinggi, yaitu 373/100.000 KH, dengan jumlah kasus perdarahan 45,5%, eklampsia 12,9%, aborsi 11,1%, sepsis post partum 9,6%, partus lama 6,5%, anemia 1,6% dan penyebab tidak langsung 14,1%.
Salah satu indikator proses yang penting dalam program safe motherhood (perlindungan terhadap ibu) adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani oleh tenaga kesehatan. Persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia walaupun menunjukkan kenaikan yang signifikan, namun jangkauannya masih rendah dan akibat dari masih ada persalinan oleh tenaga non kesehatan maka merupakan penunjang tingginya angka kematian ibu.

Tidak tersedianya bidan di desa menyebabkan alternatif dukun beranak sebagai hanya satu-satunya pilihan. Namun tidak selamanya masalah kekurangan tenaga bidan menjadi penyebab masyarakat memilih pertolongan persalinan pada dukun beranak. Pelayanan dukun yang dirasa lebih baik membuat masyarakat desa cenderung meminta pertolongan pada dukun bayi. Pelayanan ekstra yang diberikan dukun tersebut antara lain secara rutin memandikan bayi, merawat, memijat bayi dan ibu nifas, mencuci pakaian, membuat jamu, serta memandu acara-acara ritual kelahiran bayi yang masih menjadi budaya kental yang berlaku di kalangan masyarakat desa.

Sebagai contoh di wilayah kerja Puskesmas Sumbermanjing Kulon semua desa telah memiliki bidan desa, termasuk di desa Sumberkerto. Masyarakat di wilayah desa ini telah mengetahui keberadaan bidan desa yang menempati polindes di pusat desa. Tetapi mereka cenderung memanfaatkan tenaga bidan hanya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan saja, sedangkan untuk pertolongan persalinannya banyak yang memilih melahirkan di dukun.
Pertolongan persalinan yang tidak aman dan sehat oleh tenaga yang tidak profesional dapat meningkatkan resiko komplikasi kehamilan dan persalinan berupa kematian ibu dan atau kematian bayi. Jika kondisi ini dibiarkan pada akhirnya akan menimbulkan korban akibat pertolongan yang salah. Hal ini dibuktikan dengan adanya kasus persalinan yang dilakukan oleh dukun pada Januari 2007, dimana terjadi partus lama yang menimbulkan kematian pada janin dan ibu. kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi seluruh elemen masyarakat, terutama ibu-ibu hamil agar mereka mengetahui, memahami, dan menyadari tentang metode persalinan aman dan sehat. Masyarakat terutama ibu-ibu seharusnya memiliki sikap berupa keyakinan terhadap pertolongan persalinan sehat yang ditangani oleh tenaga kesehatan/bidan, namun kenyataannya walaupun telah ada kasus kematian ibu bersalin karena pertolongan yang tidak benar, banyak ibu hamil yang masih saja tidak mau melahirkan di bidan. Bisa jadi hal ini terjadi karena kurangnya wawasan dan pengetahuan ibu tentang metode persalinan sehat dan aman yang seharusnya menjadi pilihan utama mereka.

Kode File : K179
File proposal skripsi ini meliputi :
a. Halaman depan
b. Bab I – III (pendahuluan – metpen) lengkap
c. Daftar Pustaka
d. Lampiran2

Harga : Rp. 20.000,-

Perbedaan Kecepatan Penyembuhan Luka Bersih Antara Penggunaan Lendir Bekicot (Achatina Fulica) Dengan Povidone Iodine 10% Dalam Perawatan Luka Bersih Pada Marmut (Cavia Porcellus)

Perawatan luka di klinik biasanya menggunakan bahan anti septik seperti Etakidrine laktat dan Povidone iodine. Disatu sisi bahan tersebut sangat efektif mematikan mikroba, tetapi di sisi lain menimbulkan iritasi pada luka, selain itu zat-zat yang terkandung dalam bahan anti septik akan dianggap sebagai benda asing oleh tubuh karena komponen dan susunannya berbeda dengan sel-sel tubuh (Fredrick, 2003). Dengan dikemukakannya pendapat diatas maka mendorong usaha pengembangan perawatan luka sebaik mungkin, dengan meminimalkan efek-efek yang merugikan tubuh melalui penelitian bahan-bahan alam yang aman bagi tubuh.

Sekarang ini banyak orang yang mencari alternatif lain yang lebih murah dengan beralih ke obat tradisional yang berasal dari alam sekitar. Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar untuk digali, salah satunya adalah pemanfaatan flora dan fauna dibidang kesehatan. Masyarakat desa terpencil tidak tergantung sepenuhnya pada obat modern karena faktor geografis yang tidak memungkinkan ketersediaan obat-obatan, mereka mewarisi pengobatan tradisional secara turun temurun. Bahan alam yang dipercaya berkhasiat untuk mengobati luka salah satunya adalah lendir Bekicot, bahan ini sering digunakan oleh para petani di Jawa untuk mengobati luka akibat terkena sabit atau cangkul di sawah.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bambang Pontjo Priosoeyanto tahun 2005 dari Laboratorium Patologi Veteriner Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, membuktikan lendir Bekicot atau Achatina fulica mampu menyembuhkan luka bersih dua kali lebih cepat dari pada luka yang diberi larutan Normal saline. Penelitian lain yang dilakukan C Mutiarawati, Ssi Apt. tahun 2005 membuktikan bahwa lendir bekicot juga mengandung zat analgesik walaupun daya analgesiknya lebih rendah dibandingkan dengan Asetosal. Djalal Rosyidi dari Universitas Brawijaya Malang pada tahun 2005 meneliti bahwa lendir Bekicot mengandung bahan yang bersifat antimikroba. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti perbedaan kecepatan penyembuhan luka bersih (dalam hitungan hari) antara penggunaan lendir bekicot (Achatina fulica) dengan Povidone Iodine 10% dalam perawatan luka bersih.

Kode File : J007
File skripsi ini meliputi Bab I – VII (pendahuluan – penutup) lengkap

Harga : Rp. 30.000,-